SANGGAH KAMULAN DAPDAP

Sanggah Kamulan Dapdap Sakti masyarakat Desa Les, Tejakula, Buleleng, Bali, merupakan tempat suci—pemujaan leluhur dan Tuhan—yang dibangun wajib menggunakan pohon dadap (Erythrina variegata) sebagai bahan utamanya, tanpa ukiran kayu, beton, atau paku. Ini merupakan simbol hubungan manusia dengan alam, di mana ritualnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan alam.

Struktur bangunan ini terdiri dari dua ruang di atas pohon dadap dengan klatkat (anyaman bambu) yang diikat menggunakan ijuk, serta batu sebagai dasar pemujaan di bagian tengah bawah. Sanggah ini tidak boleh dibangun menggunakan beton, kayu ukiran, atau memakai paku maupun tali modern sebagai pengikat, hanya boleh menggunakan tali dari bambu atau tali ijuk. Terdapat dua pelinggih (bangunan suci) di kiri dan kanan, yang masing-masing mewakili Taksu dan Surya, serta batu di bawahnya yang dipuja sebagai Ratu Gede Dasar.

Sanggah Kamulan Dapdap Sakti adalah bentuk pemujaan terhadap bapanta (roh leluhur sebagai purusa/laki-laki) dan ibunta (roh leluhur sebagai pradana/perempuan), Atmanta atau yang memberi kehidupan (Brahma, Wisnu, dan Siwa/Iswara), Dewa Surya, Bhatara Hyang Guru, Tri Purusa. Hampir semua penduduk Desa Les memiliki Palinggih Sanggah Kamulan Dapdap Sakti.

The Sanggah Kamulan Dapdap Sakti of Les Village, Tejakula, Buleleng, Bali, is a sacred family shrine—a place to worship ancestors and God—built using the dapdap tree (Erythrina variegata) as its main material. It must be constructed without carved wood, concrete, or nails. This unique way of building reflects the deep connection between humans and nature, where the rituals performed are meant to maintain balance and harmony with the natural world.

The shrine’s structure consists of two sacred spaces placed above the dapdap tree, made from klatkat (woven bamboo) tied with ijuk (black palm fiber). At the center base lies a stone altar used as the main focus of worship. It is strictly forbidden to use modern materials—no concrete, carved wood, nails, or synthetic rope—only natural bindings made from bamboo or ijuk are allowed. On each side stand two pelinggih (sacred shrines), representing Taksu (spiritual energy or charisma) and Surya (the Sun God), while the stone below is honored as Ratu Gede Dasar, the guardian deity of the foundation.Sanggah Kamulan Dapdap Sakti symbolizes devotion to Bapanta (male ancestral spirit or purusa) and Ibunta (female ancestral spirit or pradana), as well as to Atmanta, the divine life-giver—manifested in Brahma, Vishnu, and Shiva/Iswara—together with Dewa Surya, Bhatara Hyang Guru, and the Tri Purusa. Almost every household in Les Village has its own Palinggih Sanggah Kamulan Dapdap Sakti, preserving this sacred heritage across generations.

TAPEL NGANDONG

Tapel Ngandong adalah sebuah kesenian tarian hiburan yang berasal dari Desa Les, Buleleng, Bali, dan biasanya ditampilkan saat acara seperti pengerupukan atau pawai ogoh-ogoh. Kesenian ini unik karena hanya menggunakan satu kostum dan satu penari yang memerankan karakter “dadong ngandong” (nenek menggendong) yang suaminya sedang berobat. Kesenian ini tidak bersifat sakral seperti tarian upacara keagamaan lainnya.

Tapel Ngandong is a traditional entertainment dance from Les Village, Buleleng, Bali, usually performed during events like Pengerupukan or Ogoh-ogoh parades. What makes this performance unique is that it features only one dancer and one costume, portraying the character of “Dadong Ngandong”—an old woman carrying a bundle on her back while her husband is away seeking medical treatment.Unlike ritual dances performed for religious ceremonies, Tapel Ngandong is non-sacred and meant purely for entertainment, often bringing humor and joy to the community through its simple yet expressive storytelling.

GARAM LAUT

Garam Les dari dulu sudah terkenal unggul. Dalam beberapa literatur yang berserak di internet, orang-orang Les sudah membuat garam sejak abad ke-17, sebagaimana masyarakat Kusamba di Klungkung, Amed dan Kubu di Karangasem, dan Suwung di Denpasar.

Terletak di bantaran pesisir Bali Utara dengan sinar matahari dan angin laut yang sejuk—yang menguapkan air laut dan meninggalkan kristal garam—, menjadikan Les sebagai salah satu wilayah terbaik untuk produksi garam di Bali Utara—bahkan mungkin di Bali. Dan kini, bertani garam di Les menjelma warisan budaya, bukan sekadar urusan ekonomi atau bumbu masakan.

Garam Les diproduksi dengan metode solar evaporation, yakni memanfaatkan panas matahari untuk menguapkan air laut (disebut nyah dalam bahasa Bali) sampai terbentuk kristal garam. Petani garam Indonesia pada umumnya melakukan evaporasi di petak-petak pengkristalan (mejan garam) di lahan garam. Namun, di Les, evaporasi dilakukan dengan menggunakan sebuah medium yang disebut palung.

Les salt has long been known for its exceptional quality. According to several historical references scattered across the internet, the people of Les Village have been producing salt since the 17th century, much like the communities of Kusamba in Klungkung, Amed and Kubu in Karangasem, and Suwung in Denpasar.

Located along the northern coast of Bali—where the combination of sunlight and cool sea breeze naturally evaporates seawater and leaves behind salt crystals—Les has become one of the best salt-producing regions in North Bali, and perhaps even in all of Bali. Today, salt farming in Les has evolved into a living cultural heritage, more than just an economic activity or a way to flavor food.Les salt is made using the solar evaporation method, which relies on sunlight to evaporate seawater—known locally as nyah in Balinese—until salt crystals are formed. Generally, Indonesian salt farmers perform this evaporation process in crystallization plots (mejan garam). However, in Les, the process is done differently: evaporation takes place using a special medium called a palung, giving Les salt its distinctive character and quality.

AIR TERJUN YEH MAMPEH

air terjun desa les

Aliran air Yeh Mampeh jatuh dari tebing setinggi sekitar 30 meter, membentuk kabut lembut yang berkilau saat terkena sinar matahari. Airnya jernih dan sejuk, mengalir menuju sungai kecil di bawahnya, menjadi sumber kehidupan bagi warga sekitar. Di sekitarnya juga terdapat gua-gua alami dan jalur trekking ringan yang menawarkan pengalaman wisata alam sekaligus petualangan.

Selain menjadi daya tarik wisata, Yeh Mampeh juga memiliki nilai penting bagi masyarakat Desa Les sebagai ruang spiritual dan ekologis. Airnya digunakan dalam berbagai upacara adat, sementara keasriannya dijaga bersama oleh warga desa sebagai bagian dari warisan alam dan identitas lokal mereka.

The waterfall cascades from a height of about 30 meters, creating a soft mist that sparkles beautifully under the sunlight. Its cool, clear water flows down into a small stream below, serving as an important source of life for the local community. Around the site, visitors can also explore natural caves and enjoy light trekking paths, making it a perfect spot for both nature lovers and adventurers.Beyond its scenic beauty, Yeh Mampeh holds spiritual and ecological significance for the people of Les Village. The water is used in various traditional ceremonies, and the surrounding environment is carefully preserved by the locals as part of their natural and cultural heritage.

DIVE AND SNORKLING

Terletak di pesisir utara Bali, Desa Les, Tejakula, Buleleng menawarkan pengalaman menyelam dan snorkeling yang tenang, alami, dan penuh kejutan bawah laut. Air lautnya jernih dengan arus yang relatif tenang, menjadikannya ideal bagi penyelam pemula maupun berpengalaman.

Di bawah permukaannya, pengunjung dapat menjumpai karang-karang alami yang indah, terumbu buatan hasil rehabilitasi komunitas lokal, serta beragam ikan tropis berwarna-warni. Desa Les dikenal sebagai salah satu pionir konservasi laut di Bali Utara, di mana masyarakatnya aktif melestarikan ekosistem terumbu karang melalui kegiatan berbasis komunitas.

Selain keindahan bawah lautnya, pengalaman menyelam di Les juga menghadirkan kehangatan interaksi dengan warga lokal, yang kerap menyambut pengunjung dengan keramahan khas pesisir. Dengan perpaduan antara alam yang masih murni dan kesadaran lingkungan yang kuat, aktivitas dive dan snorkeling di Les menjadi cara terbaik menikmati sekaligus menjaga keindahan laut Bali Utara.

Located on the northern coast of Bali, Les Village in Tejakula, Buleleng offers a peaceful and authentic diving and snorkeling experience. With its clear waters and gentle currents, the area is perfect for both beginners and experienced divers seeking tranquility beneath the surface.

Underwater, visitors will discover beautiful natural coral formations, artificial reefs built through community-based conservation projects, and a vibrant variety of tropical fish. Les is known as one of North Bali’s pioneers in marine conservation, where local residents actively protect and restore coral ecosystems through sustainable practices.Beyond its marine beauty, diving in Les also brings the warmth of local hospitality—friendly coastal communities who take pride in sharing their environment and culture. Combining pristine nature with strong environmental awareness, dive and snorkeling activities in Les offer not only breathtaking views but also a meaningful way to connect with and preserve the sea of North Bali.

BUKIT YANGUDI

Bukit ini menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbit, trekking ringan, atau sekadar bersantai sambil menikmati semilir angin pegunungan dan pemandangan laut yang luas.

Dari puncaknya, pengunjung dapat melihat bentangan Desa Les dari ketinggian, hamparan ladang garam, serta perkampungan nelayan di tepi pantai. Bukit Yangudi juga dikenal sebagai tempat favorit bagi pecinta fotografi karena suasananya yang tenang dan cahaya alami yang dramatis, terutama di pagi dan sore hari.

Selain keindahan alamnya, perjalanan menuju Bukit Yangudi melewati kawasan pertanian dan hutan kecil yang masih asri, menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi pedesaan Bali yang autentik.

Dengan keheningan, udara segar, dan panorama yang memukau, Bukit Yangudi menghadirkan pengalaman wisata alam yang menenangkan sekaligus menyegarkan jiwa.

Bukit Yangudi it is one of the best spots to enjoy a sunrise, take a light trekking adventure, or simply relax while feeling the gentle mountain breeze and admiring the wide ocean horizon.

From the top, visitors can enjoy a sweeping view of Les Village, including its traditional salt farms and coastal fishing settlements. Bukit Yangudi is also a favorite spot for photography enthusiasts, known for its peaceful atmosphere and dramatic natural lighting—especially during early morning and late afternoon.

The journey to the hill passes through small forests and local farmlands, offering a glimpse of authentic rural life in Bali. With its tranquility, fresh air, and stunning landscape, Bukit Yangudi invites visitors to reconnect with nature and experience the serene charm of North Bali.

YAYASAN LINI

Yayasan LINI (The Indonesian Nature Foundation) adalah organisasi nirlaba yang fokus pada konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Sejak berdiri pada tahun 2008, LINI telah menjadi pelopor dalam upaya rehabilitasi terumbu karang, budidaya ikan hias ramah lingkungan, dan pendidikan kelautan di Bali Utara.

Melalui program-programnya, LINI bekerja sama dengan Pemerintah Desa Les dan masyarakat lokal untuk menciptakan sistem pengelolaan laut yang berkelanjutan. Salah satu kegiatan unggulannya adalah Pusat Pembelajaran LINI Aquaculture and Training Centre (LATC) di Desa Les, tempat pelatihan dan penelitian yang terbuka bagi nelayan, pelajar, hingga peneliti dari dalam dan luar negeri.

Yayasan LINI tidak hanya berfokus pada pelestarian ekosistem laut, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan. Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, LINI menjadi contoh nyata bagaimana komunitas kecil dapat memberi dampak besar bagi laut Indonesia.

LINI (The Indonesian Nature Foundation) is a non-profit organization dedicated to marine conservation and coastal community empowerment. Since its establishment in 2008, LINI has been a pioneer in coral reef rehabilitation, environmentally friendly ornamental fish aquaculture, and marine education in North Bali.

Through its programs, LINI collaborates closely with the Les Village Government and local communities to develop a sustainable marine management system. One of its key initiatives is the LINI Aquaculture and Training Centre (LATC) in Les Village—a learning and research hub open to fishers, students, and researchers from across Indonesia and abroad.LINI’s mission goes beyond preserving marine ecosystems; it also focuses on improving community well-being through education, skills training, and environmental awareness. Guided by a spirit of collaboration and sustainability, LINI stands as a strong example of how a small community can create a significant positive impact on Indonesia’s oceans.

TPST

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Les, Tejakula, Buleleng, merupakan inisiatif masyarakat untuk menjaga kebersihan desa dan laut. Dikelola bersama oleh pemerintah desa dan warga, TPST ini menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam mengolah sampah rumah tangga.

Sampah organik diubah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah dan didaur ulang untuk mendukung ekonomi sirkular. Selain pengolahan, TPST juga berfungsi sebagai pusat edukasi lingkungan, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Melalui partisipasi aktif warga, TPST Desa Les menjadi contoh nyata upaya lokal dalam menjaga kebersihan daratan sekaligus kelestarian laut Bali Utara.

The Integrated Waste Management Facility (TPST) of Les Village, Tejakula, Buleleng, is a community-led initiative to keep the village and the sea clean. Managed jointly by the village government and residents, the TPST applies the 3R principles (Reduce, Reuse, Recycle) in household waste management.

Organic waste is processed into compost, while inorganic materials are sorted and recycled to support a circular village economy. Beyond waste treatment, the TPST also serves as an environmental education center, raising awareness about sustainable waste management.Through strong community participation, Les Village TPST stands as a model of how local action can protect both the land and the ocean of North Bali.

DAPUR BALI MULA

Dapur Bali Mula di Desa Les, Tejakula, Buleleng merupakan inisiatif komunitas yang melestarikan kuliner tradisional Bali dengan bahan-bahan lokal dari laut dan kebun desa. Dikelola oleh warga, dapur ini menjadi ruang belajar dan berbagi tentang kearifan pangan Bali, mulai dari memasak hingga penyajian tradisional.

Pengunjung dapat ikut memasak dan mencicipi hidangan khas Bali Utara, sambil mengenal budaya, bahan alami, dan nilai keberlanjutan yang dijaga masyarakat setempat.

Dengan cita rasa autentik dan suasana desa yang hangat, Dapur Bali Mula menghadirkan pengalaman kuliner yang sederhana namun penuh makna.

Dapur Bali Mula in Les Village, Tejakula, Buleleng, is a community initiative dedicated to preserving traditional Balinese cuisine using locally sourced ingredients from the sea and village gardens. Managed by local residents, this kitchen serves as a learning and sharing space for Balinese culinary wisdom—from cooking techniques to traditional food presentation.

Visitors are invited to take part in the cooking process and taste authentic dishes from North Bali, while learning about local culture, natural ingredients, and the community’s commitment to sustainability.With its authentic flavors and warm village atmosphere, Dapur Bali Mula offers a simple yet deeply meaningful culinary experience.

MENGGUH

Mengguh adalah hidangan khas berupa perpaduan antara beras yang dimasak menjadi bubur dengan tambahan sedikit kunyit, sehingga menghasilkan warna kuning dan cita rasa gurih berkuah, dipadukan dengan bumbu Bali yang diulek halus. Hampir setiap rumah di Desa Les mampu membuat makanan khas yang menjadi sajian wajib di segala musim ini.

Di Desa Les, mengguh sering disajikan sebagai hidangan pembuka sekaligus penutup dalam acara hajatan, pertemuan keluarga, maupun kegiatan komunitas.

Ciri khas utama mengguh terletak pada buburnya yang berkuah dan telah dibumbui, kemudian diberi tambahan topping sayur-sayuran. Sayur seperti kacang panjang, kedongkol, bayam, dan taoge dicampur dengan bumbu kacang yang diulek halus, memberikan cita rasa segar dan kaya akan rempah.

Mengguh is a traditional dish made from rice cooked into a porridge with a touch of turmeric, giving it a golden color and a savory, soupy flavor. It is blended with finely ground Balinese spices, creating a rich and aromatic taste. Almost every household in Les Village can prepare this signature dish, which has become a staple enjoyed throughout all seasons.

In Les Village, mengguh is often served as both a starter and a closing dish during ceremonies, family gatherings, and community events.The main characteristic of mengguh lies in its seasoned, soupy porridge topped with a variety of vegetables. Long beans, corn kernels, spinach, and bean sprouts are mixed with a smooth peanut sauce, creating a fresh, flavorful combination rich in traditional spices.

JUKUT BLOOK

Jukut Blook adalah salah satu kuliner khas Desa Les, Tejakula, Buleleng, yang menggambarkan kesederhanaan sekaligus kekayaan cita rasa Bali Utara. Hidangan ini terbuat dari pucuk daun labu, cicihan sabrang (singkong), dimasak bersama parutan kelapa muda dan bumbu-bumbu Bali. Topingnya jagung yang disangrai atau digoreng.

‎Dengan rasa gurih pedas yang khas dan aroma rempah yang kuat, jukut blook sering disajikan sebagai lauk pendamping nasi hangat, terutama pada acara adat dan makan bersama keluarga. Selain lezat, kuliner ini juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Les dalam memanfaatkan hasil alam sekitar secara lestari, menjadikannya bagian penting dari identitas kuliner desa yang alami dan penuh makna.

Jukut Blook is one of the traditional dishes from Les Village, Tejakula, Buleleng, reflecting both the simplicity and the rich flavors of North Bali. This dish is made from young pumpkin leaves and finely chopped cassava, cooked with grated young coconut and authentic Balinese spices. It is typically topped with roasted or fried corn.

With its distinctive savory and mildly spicy taste, along with a strong aroma of spices, jukut blook is often served as a side dish with warm rice, especially during traditional ceremonies and family gatherings. Beyond its delicious flavor, this dish also embodies the local wisdom of the Les community in sustainably utilizing natural resources, making it an essential part of the village’s culinary identity — simple, natural, and full of meaning.